Dampak El Nino Pada Sektor Kelautan dan Upaya Penanggulangannya

El Nino dan La Nina berasal dari bahasa Spanyol. El Nino berarti “Anak Laki-laki”, sedangkan La Nina artinya “Anak Perempuan”. El Nino dan La Nina sendiri baru dimasukkan kedalam istilah bahasa ilmiah pada tahun 1997.

Menurut sejarahnya El Nino merupakan sebuah fenomena yang teramati oleh penduduk Peru yang terlihat atau termamati oleh penduduk Peru adalah meningkatnya suhu laut yang biasanya dingin pada sekitar pantai Samudra Pasifik bagian Timur. Sedangkan La Nina adalah fenomena kebalikan dari El Nino karena peristiwa La Nina mengakibatkan suhu laut yang biasanya hangat menjadi dingin.

El Nino merupakan sirkulasi anomali udara dan samudera. Saat dorongan angin pasat terputus atau melemah, air equator yang hangat yang seharusnya secara normal mengalir ke arah barat di equator Pasifik, berbalik mengalir ke timur. Kebanyakan alirannya secara alami adalah equatorial counter current yang diperkuat, namun para oseanografer telah menemukan bahwa equatorial under current di Pasifik juga bertambah volumenya selama El-Nino (Tom Garrison, 1993).

El Nino baru akan terjadi jika perairan yang lebih panas di Pasifik Tengah dan Timur meningkatkan suhu dan kelembaban pada atmosfer yang berada di atasnya. Kejadian ini mendorong terjadinya pembentukan awan yang akan meningkatkan curah hujan di sekitar kawasan tersebut. Selama terjadi El Nino suhu permukaan naik dan tinggi permukaan air laut juga ikut naik. Air yang menjadi hangat gara-gara peristiwa ini menyebabkan evaporasi meningkat dan tekanan udara menjadi rendah. Karena peristiwa ini habitat laut bisa terpengaruhi kehidupannya. Di akhir peristiwa El Nino suhu rata-rata di laut berada di bawah normal. Hal ini lah yang menyebabkan El Nino dikaitkan dengan La Nina karena La Nina mengakibatkan suhu laut menjadi dingin.

Ada beberapa teori tentang dampak yang diakibatkan oleh peristiwa El Nino ini. Fenomena El Nino mengakibatkan perairan yang tadinya subur menjadi sebaliknya. Ini diakibatkan karena upwelling yang membawa banyak nutrien dari dasar laut dan biasanya upwelling menjadi tempat berkumpulnya ikan dan plankton menjadi melemah. Air hangat dengan kandungan nutrisi yang rendah menyebar di sepanjang pantai sehingga panen para nelayan berkurang.

Ada teori lain yang memperkirakan bahwa pada fase El Nino air dari Laut Maluku banyak terhisap ke dalam Samudra Pasifik untuk menggantikan air yang terhisap kearah timur. Untuk mengganti kekosongan di Laut Maluku, maka terjadi peristiwa upwelling. Hal ini bisa menyebabkan melimpahnya plankton atau sering disebut dengan red tide. Hal ini jelas tidak menguntungkan bagi kehidupan di laut, karena red tide bisa menghasilkan racun yang bisa mengganggu kehidupan bawah laut terutama pada ikan.

Dampak lain yang disebabkan oleh El Nino adalah matinya karang-karang atau sering disebut dengan coral bleaching. Menurut  saya hal ini disebabkan karena El Nino bisa menghangatkan suhu laut. Karena suhu laut naik maka alga yang hidup pada coral mengalami kematian sehingga jaringan terumbu menjadi menjadi pudar sehingga warna putih kalsium karbonat yang seperti tulang kelihatan. Coral bleaching yang terjadi di Indonesia telah terjadi selama periode El Nino pada tahun 1998, yang terlihat mulai dari kepulauan Riau sampai Kepulauan Seribu, kepulauan Karimun Jawa, Pulau Bali, Pulau Lombok dan Selat Sunda. Gejala coral bleaching ini pertama kali dilaporkan di Pulau Bali dan Pulau Lombok pada awal Maret 1998 dan di Kepulauan Seribu pada awal Mei 1998. Pada Akhir Agustus kematian terumbu karang ini semakin meluas bahkan mencapai 90-95%. Dari semua spesies terumbu karang yang mati spesies yang paling banyak mengalami kematian adalah Acrocpora spp.

Pemantauan suhu secara terus-menerus yang dilakukan di pulau Pari menunjukan bahwa pemanasan air dimulai pada 10 Januari dan mencapai suhu maksimum sekitar 19 Maret 1998. Selama terjadinya pemutihan tercatat sehu air meningkat dekitar 2-3oC lebih tinggi dari nilai rata-rata normalnya. (Brown dan Suharsono,1990)

Menurut Dr. Wahyu S Hantoro, pakar iklim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan kerugian akibat kehadiran El Nino tidak hanya menimpa manusia dan sumber daya nabati, tetapi juga menimpa sumber daya hewani perairan, termasuk terumbu karang. Pada 1997, banyak terumbu karang yang mati bukan hanya karena perubahan suhu tetapi juga karena masuknya abu hasil pembakaran hutan ke perairan. Terumbu karang dikenal sebagai hewan yang sensitif terhadap perubahan suhu.

  • Penanggulangan dampak dari El Nino

Seperti yang kita ketahui bahwa El Nino bukan gejala yang disebabkan oleh ulah manusia El Nino adalah peristiwa alam. Oleh sebab itu El Nino tidak bisa dicegah maupun dihentikan, maka kita hanya bisa mencoba mengurangi dampak yang dihasilkan oleh El Nino. Oleh sebab itu, tindakan yang dapat dilakukan untuk beradaptasi dengan El Nino adalah dengan memberikan pendidikan dan pelatihan kepada masyarakat dari jauh-jauh hari. Selain itu pemerintah juga harus mempersiapkan segala upaya untuk mencegah besarnya akibat yang dihasilkan oleh El Nino, seperti membuat gerakan hemat air karena El Nino bisa membuat kemarau yang berkepanjangan, mengatur tata penggunaan air, irigasi, termasuk ketersediaan air di waduk-waduk, dll.

El Nino juga bisa mengancam kehidupan nelayan tradisional di Indonesia. Menurut yang saya baca dari beberapa situs internet mengatakan bahwa para nelayan hanya bisa pasrah dan menunggu El Nino berlalu karena mereka tidak mempunyai alat yang memadai untuk menangkap ikan. Melihat kejadian ini seharusnya pemerintah lebih serius dalam mengatasi masalah nelayan ini.

id.wikipedia.org/wiki/El_Niño_dan_La_Niña

http://www.dirgantara-lapan.or.id/moklim/edukasi0609enso.html

Advertisements

About this entry